Pages

Sabtu, 18 Oktober 2014

Dear my Diary (18102014)


Tepat satu bulan yang lalu semuanya berakhir, sebuah perpisahan termanis dalam hidupku. Kau pandai mengolah kata hingga aku bisa terima semuanya dan saat itu aku memang bisa baik-baik saja, tapi tidak setelahnya. Apakah kau tahu?? Setelah hari itu, sangat sulit bagiku menjalani semuanya. Masih ada benih-benih cinta itu di hatiku, setiap hari aku masih menunggumu, masih mengharapkanmu. Hari-hari aku lalui begitu berat tanpa ada kamu lagi di sisiku. 

Air mata selalu jatuh saat aku mengingatmu, mata sembab dipagi hari sudah hal yang biasa bagiku. Selera makan pun aku tak punya, badanku semakin kurus karena memikirkanmu. Aku berusaha menghubungimu, tetapi kau tak lagi mengharapkanku. Kata-katamu malah semakin melukai hatiku.

Tahukah kau yang telah melukai hati dan perasaanku? Sangat amat sulit bagiku mengurangi rasa cintaku untukmu, apalagi melupakanmu dan melupakan segala kenangan bersamamu. SANGAT AMAT SULIT, tapi kau tak pernah mempedulikannya.
Setiap kali aku mendengar suara kereta api, ingin rasanya aku menangis. Aku teringat akan kenangan kita saat pergi ke Jogja dulu. Sebuah kota yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Kota kenangan antara aku dan kamu, sebuah saksi bisu dalam perjalanan cinta kita. Tapi itu semua tinggallah kenangan, yang tak tahu akankah bisa terulang lagi suatu saat nanti.

Kisah cintaku tak semulus seperti yang aku harapkan sebelumnya. Sungguh tragis, menyakitkan. Sempat terlintas dalam pikiranku untuk mengakhiri hidupku. Aku tak ingin merasakan hidup dengan rasa sakit yang seperti ini. Aku sudah muak dengan kehidupanku saat ini.

Aku benci dan sangat benci memiliki rasa cinta ini. BENCI.

Aku mencoba bertahan dan bangkit dari keterpurukan ini sendiri, tanpa dirimu. Aku sadar air mata dan kesedihanku ini tak akan dapat mengembalikan hubungan yang telah terjadi diantara kita. Semua yang aku lakukan hanyalah sia-sia. Penyesalan, dan luka ini biarlah jadi kenangan yang akan terus membekas dalam hatiku. Ibarat sebuah goresan tinta yang tak bisa aku hapus dalam lembaran kehidupanku, ya itulah seni dalam kehidupan, hehe... anggap aja seperti itu.

Aku tak akan berusaha melupakan semua kenangan bersamamu, karena semakin aku berusaha melupakan, semakin kenangan itu terlihat jelas di mataku. Semoga aku bisa melupakannya secara perlahan seiring dengan berjalannya waktu. Amiin.........





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text